Jadi Ikon Sumedang; Dua Kecamatan, Tidak Ada Kuda Renggong

SUMEDANG – Inovatif89.com. Seni kuda renggong adalah seni yang hingga kini menjadi ikon Kabupaten Sumedang. Untuk itu tak hanya pelaku seni kuda renggong, tapi semua kalangan termasuk Pemerintah daerah harus menjaga dan melestarikan seni tersebut.

Ketua Paguyuban Kuda Renggong Sumedang (Paskures), H Asep Daseng warga Desa Sarimekar, Kecamatan Jatinunggal menyebutkan, pada dasarnya seni kuda renggong dijamin akan terus eksis. Namun demikian, kondisi itu harus berbanding lurus dengan eksistensi pelaku seninya. Kuda renggong, lahir di Sumedang tahun 1910.

Bacaan Lainnya

“Asal muasal pencipta kuda renggong adalah Sipan dari Cikurubuk Buahdua. Pada perkembangannya, guna melestarikan keberadaan seni renggong, di tahun 1994 terbentuklah Paskures. Setelah terbentuk Paskures, perkembangan seni kuda renggong sangat pesat. Di setiap daerah memiliki seni kuda renggong,” katanya.

Menurut Asep, hingga kini, tercatat sebayak 720 kuda renggong di Sumedang yang tersebar di 24 Kecamatan.

“Setiap tahunya kuda renggong bertambah, sampai saat ini hanya dua Kecamatan yang tidak memiliki kuda renggong, yakni Kecamatan Sukasari dan Cibugel. Mungkin saja tahun depan di dua kecamatan tersebut sudah ada kuda renggong,” katanya, Rabu (28/08/2019).

Asep menambahka, karena wilayah asal muasal kuda renggong adalah daerah Buahdua. Maka untuk jumlah kuda renggong terbanyak pun ada di Buahdua dan Conggeang.

“Perkembangan keberadaan kuda renggong, memang harus terus didorong. Terutama bagi para pelaku seninya dan pelaku seni kuda renggong perlu regenerasi yang berkesinambunan,” tuturnya.

Satu upaya, terang Asep, untuk menanamkan kecintaan terhadap seni kuda renggong. Meski belum kontinyu, paling tidak, pelaku seni kuda renggong masih bisa memperlihatkan keberadaanya.

“Haru­s diperbanyak event festival sebagai ajang silaturahmi, promosi, berdiskusi dan tentunya melestarikan kuda renggong itu sendiri,” imbuhnya.

Asep menegaskan, idealnya event seperti festival kuda renggong harus menjadi kalender seni budaya di Sumedang. Pasalnya seni kuda renggong adalah ikon bagi Sumedang.

“Jangan sampai kita kalah dengan daerah lainnya, karena di daerah lain juga seni kuda renggong mulai menjamur,” tegasnya.

lanjut Asep, dari seni kuda renggong banyak keluarga yang menggantungkan kehidupannya, dengan demikian sudah saatnya seni kuda renggong mendapat tempat yang istimewa di Sumedang.

“Berharap perkembangan ini tidak akan berhenti dan diharapkan Sumedang jadi wilayah kuda renggong se-Indonesia,” pungkasnya.

[Pemkab Sumedang / Fauzi]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *