TASIKMALAYA — Kepala Desa Kudadepa Yeni Nurmala, S.IP, terkait program Afirmasi sebesar Rp. 113 Juta sekian itu di peruntukan untuk kandang, pakan, pengelola, dan ternak domba (kambing).
“Ternak domba itu perencanaan awal padasaat itu 43 ekor, sudah kita laksanakan 43 ekor karena memang padasaat itu awalnya mau di gabungkan dengan program yang di terima oleh Desa Kudadepa mendapatkan program Zakat Community Development (ZCD) kerjasama Kadin dengan Baznas padasaat itu. Sehingga pada perencanaan yang ZCD itu permustahik 10 ekor, ternyata realisasinya dari BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) nya hanya Rp. 10 Jt sudah diterima berbentuk ternak sebanyak 10 ekor,” ungkap Yeni kepada Inovatif89.com saat ditemui di kantornya, Desa Kudadepa Kecamatan Sukahening Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat, Kamis (25/02/2021) siang.
Ia mengatakan, untuk saya sih kebetulan kan kita ada Pendamping pendampingan ekonomi selama 10 bulan, padasaat itu kita mengikuti pelatihan ke ACT Cintabodas disitu ada pengelolaan ternak domba modern akhirnya kita mengacu ke pengalaman di ACT disana.
“Saya Kepala desa bersama Sekdes sama semua perencanaan maen ke AGRO di Wado, AGRO itu ternyata prosesnya bukan yang seperti di ACT. Musyawarah dengan pendamping dengan semuanya dari ARGO merekomendasikan kalau mau sistem pengelolaan ternak modern dari sana, dari Pontren yang ada di Wanaraja Garut,” imbuhnya.
Ahirnya kesana semuanya, terang Yeni, Pendamping, Pak Sekdes, Kaur Keuangan, dan TPK karena yang mengelola uang di desa itu TPK kemudian terjadi jual beli, membeli ternak domba sebanyak 43 ekor langsung oleh TPK diserahkan DP nya (Down Payment atau uang muka) padasaat itu.
“Pelunasan nanti disaat ternak sudah di kirim, ternak dikirim ke sini sebanyak 43 ekor di terima oleh TPK langsung tidak lama dari situ pelunasan melalui transper. Melalui tranper di lunasi kepihak Pontren, malahan sekarang sudah di SPJ kan,” paparnya.
Beberapa bulan berjalan pembelian ternak dari Pontren ternyata di evaluasi terjadi lah si ternak itu ada yang mati 1 (satu) terus 2 minggu lagi laporan dari pengelola Ibu katanya mati lagi, silahkan fotokan karena dari Pontren ada tanda pengenal pada ternak.
“Silahkan fotokan yang matinya tanda pengenal pada ternaknya ditunda untuk bukti, difoto difoto sampai yang meninggal itu berjumlah 7 ekor kalau tidak cepat diantisipasi oleh desa intinya oleh TPK, sama Kepala desa sama semuanya perencanaan sama BPD dievaluasi ternyata itu kan dalam sistem pengelolaan. Ternyata pengelola sedikit ternak banyak mungkin tidak terurus, kita sampai mendatangkan Dokter Hewan,” katanya.
Sealain itu Yeni juga mengatakan, bagaimana caranya agar ini tidak terus-terusan mati kan kita maksudnya juga mengembang biakan waktu itu penggemukan rencananya itu. Akhirnya di evaluasi dengan BPD dengan lainnya, ini jalan satu-satunya sama Pendamping koordinasi, sudah Ibu wang tuker karena ini kondisinya sudah parah takut mati banyak.
“Akhirnya ditarik ke Sodong yang sesuai pembelian untuk BAZNAS semuanya berangkat kesana malah diberita acarakan, memakai berita acara penyerahan, berita acara pengambilan ternak dari sana. Si ternak domba jadi sebanyak 12 ekor harganya ada tercantum disana, berita acara sudah dibuatkan teras ke Mustahik yang memang berhak menerima ternak tersebut itu kan tadinya juga untuk penggemukan, mengembang biakan nanti setelah berkembang biak baru diserahkan kepada Mustahik-mustahik karena kalau sekarang langsung diserahkan kepada Mustahik berarti sudah tidak ada,” ucapnya.
Intinya yang dari 43 ekor menjadi 12 ekor, jantan 1 ekor membeli bibit Merino dan yang bagus 1 ekor terus yang 10 ekor betina semua buat sekarang pengembangbiakan. Anggaran untuk pengadaan bibit kambing sebanyak 43 ekor tersebut sebesar Rp. 35.500.000.
“Kebetulan awal kandang di Pasirhuni posisinya padasaat sterilisasi semuanya diangkat ke Sodong yang penyakitan itu. Nah agar terurus yang di Pasirhuni sekarang hanya yang dari BAZNAS yang dari Afirmasi dikelolakan di Kupanunggal oleh Pak Wawan sama Pak Sudar karena memang mereka yang siap, awalnya siap kandang terus sudah biasa/ahli,” tambahnya.
lanjut Yeni, anggaran untuk pakan. Pakan yang awal itu memakai konsentrat dan sekarang yang dari Sodong menggunakan permentasi tapi dibawa kesini oleh sistem rumput biasa juga Alhamdulillah bagus malahan sekarang sudah melahirkan katanya kemarin itu.
“Pengadaan ternak sebesar Rp. 35.500.000, Kandang Rp 5 Jt, terus ada untuk pengelola karena kita kemarin sistemnya sistem upah berbeda dengan yang sekarang sistem bagi hasil. Menggunakan sistem upah hanya berjalan 2 (bulan) karena langsung di tukar, kelemahannya itu 1 (satu) dari sistm pengelolaan, ke 2 (dua) dari sistem anatar upah dan bagi hasil,” pungkasnya.
Melalui anggaran Dana Desa tahun 2020 yang diterima berjumlah Rp. 1.210.343.000;’ Pemerintah Desa Kudadepa merealisasikan dana Afirmasi untuk pengentasan kemiskinan melalui Peningkatan Produksi Peternakan (Alat produksi, dan Pengolahan ternak, Kandang, dll) sekitar sebesar Rp. 113.833.200;’
Setelah berita ini ditayangkan, Inovatif89.com belum konfirmasi dan meminta tanggapan kepda pihak-pihak yang berkompenten atau berkaitan dengan program tersebut. (0089).





