TASIKMALAYA — Ketua Kelompok Tani Puspa Rahayu Apong mengatakan, mulai menanam kopi pada tahun 2012. Ketika itu, mendapatkan program 15.000 pohon dari Dinas Perkebunan. Dengan melihat potensi yang ada, Ia berusaha bisa menanam kopi sekitar 6 ribu pohon.
“Banyak sekali potensi yang bisa ditanami kopi, seperti di Suku Gunung Karacak dengan ketinggian 1.000 sampai 1.300 dari permukaan laut. Kami berusaha bersama kelompok dan alhamdulillah tahun 2015 sudah ada produksi, meskipun saat itu kopi di Tasik belum dikenal dan saya jual dengan harga murah,” ungkap Apong kepada awak media saat ditemui usai peresmian banguan gudang produksi dan rumah jemur kopi Kelompok Tani Puspa Rahayu di Kampung Kiarabongkok Desa Puspamukti Kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat, Senin (31/05/2021).
Apong menjelaskan, di tahun 2016 ada program dari pemerintah berupa pelatihan pasca panen ke Bandung. Di sana bisa jual gabah, meskipun dengan peralatan cuma satu dan dijual gabah itu. Baru di tahun 2018 kedatangan dari Bank Indonesia. Awalnya tidak tahu ada apa, mereka melakukan survey dan setelah itu beberapa hari kemudian mendatangkan pakar kopi dari Bandung.
Saya medapat bimbingan selama 1 tahun dan Kopi Cigalontang Alhamdilluah sudah dikenal oleh masyarakat dan langsung booming. Pasalnya dilatih dari mulai budidaya pasca penen, pengolahan dan pemasaran, dan terus dibina oleh BI.
Kopi Cigalontang ini, sekarang dapat sejajar dengan kopi-kopi Nusantara. Pada tahun 2019, diikutseratkan dalam setiap pameran di Nusantara dan study banding juga terus menerus sampai ke Aceh. Dalam setiap festival juga diikutsertakan dan ikut perlombaan.
“Alhamdulillah di Tahun 2019 ikut lomba se Priatim dapat juara 1. Hasil yang di raih ini atas dorongan dan bimbingan dari semua pihak, mulai dari Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, Pemerintah Desa, DPRD, dan yang lainnya,” ucapnya.
Selain itu, masih di akhir tahun 2019 pernah mengikuti perlombaan di tingakt provinsi dan menjadi juara 2 se Provinsi Jabar. Di tahun yang sama dapat penghargaan Nasional dari Dirjen Perhutani, sehingga kopi-kopi yang ada di Cigalontang langsung booming dan dapat sejajar serta dapat dikenal bukan hanya di Nasional namun hingga ke mancanegara datang langsung ke kebun.
Petani itu jumlahnya ada 60 orang. Namun dari pengembangan selama 2 tahun ini hampir 800 hektar pengembangan kopi di Kecamatan Cigalontang dari 11 Desa. Secara geografis, Kecamatan Cigalontang terdapat 16 Desa, yang berbatasan dengan hutan yang memiliki pangkuan hutan ada 11 Desa.
“Pengembangan kopi selama 2 tahun sangat pesat, secara pemasaran langsung dibimbing dan dipromosikan oleh Bank Indonesia sampai ke mancanegara. Rencana tahun 2020 akan pameran ke beberapa negara, namun karena adanya Covid-19 sehingga harus tertunda,” paparnya.
Ia menmbahkan, sejauh ini bantuan dari Bank Indonesia berupa peralatan dari mulai mesin rumput sampai ke alat untuk roasting dan rumah jemur juga dari tahun 2019 itu dan sekarang dapat bantuan lagi dari BI. Dorongan dari semua pihak terutama dari BI sangat bangga.
“Jumlah tanaman sampai saat ini sudah lebih dari 1.000 hektar. Yang jadi kendala adalah untuk pemeliharaan terutama pupuk. Memang ada bantuan, namun hanya 2 kali sedangkan setahun butuh 3 kali untuk di pupuk. Maka dari itu, minta bantuannya. Karena untuk para petani kebanyakan hanya memiliki tenaga, sedangkan untuk modal sangat sulit,” imbuhnya.
lanjut Apong, namun bersyukur dulu susah cari pekerjaan namun sekarang kekurangan tenaga kerja. Dan ini tentunya membuka lapangan kerja, yang tadinya mencari ke luar kota sekarang bisa menetap di sini. Pasalnya ada penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kelauarga.
“Kedepannya mudah-mudahan bisa lebih maju lagi, meskipun sudah mendapatkan penghargaan di tingkat provinsi namun belum merasakan puas terutama dari pemasarannya. Untuk ekspor minta dibantu, karena peralatan belum standar internasional. Jika untuk ekspor itu kan harus berstandar internasional,” ujarnya.





