TASIKMALAYA — Diskusi sejarah Tanah Copo di lokasi objek wisata Dijuru Lapangan Aku (JurlapQu) Tanah Copo Desa Purwarahayu, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (30/10/2021) sore.
Dalam festival tersebut dihadiri Budayan dari Bogor Ahmad Efendi Kartawijaya, Pendamping Daya Desa Iwan Cahyadi, Dinas Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya, Muspika Kecamatan, PKK Kecamatan, Kepala Desa dan semua unsur Desa Purwarahayu.
Pendamping Daya Desa Iwan ditemui usai kegiatan kepada inovatif89.com mengatakan, festival Ngabubur lebih menonjolkan sejarah yang ada di Desa Purwarahayu yaitu Tanah Copo. Dengan menampilkan beberapa jenis kuliner, alat musik, dan pemainan anak-anak jaman dulu khas Tanah Copo, ada juga beberapa stand yang ikut andil dalam kegiatan ini.
“Sehingga kami sebagai Pendamping, melibatkan komunitas atau Padepokan Pancasona sebagai panitia pelaksana,” paparnya.
Selain menapilkan, terang Dia, memperaktikan cara mengolah gula, bikin Bangkrok Sampeu (kerak singkong) dan lain-lainnya. Hanya dalam kegiatan tersebut yang kami ekpose lebih ke arah diskusi ngaguar (membuka) budaya leluhur, menghadirkan beberapa narasumber sesepuh di Desa Purwarahayu untuk bercerita tentang sejarah Tanah Copo.
“Narasumber-narasumber tersebut sebagai juru kunci Situs yang ada di wilayah ini diantaranya juru kunci Goa Dasar Rongga Abdul Hak dari Desa Kertaraharja, Haliman juru kunci di Kaputihan, dan Apid juru kunci Sembah Guriang,” paparnya.
Menurut Iwan, budaya lebih banyak dari peninggalan yang ada di Situs yaitu Situs Gembah Guriang, Sembah Madu Laksana, Sembah Puhun, Sembah Kasep, Sembah Batara, Sembah Nama dan Sembah Dalem. Tapi yang paling pokok adalah Kaputihan karena itu semua bermuara kesana.
“Konon dalam cerita jaman dulu mereka sembah-sembah, bahwa Kaputihan itu sebagai kerajaan dan pintu masuk atau kaki tangan dari pusat kerajaan yang ada di Kaputihan. Maka dari itu sangat lah penting mengajak masyarakat untuk lebih menyadari budaya ini memang aset yang paling berharga, karena dengan melestarikannya secara otomatis kita punya khas tersendiri, dan itu hanya dimiliki oleh daerahnya masing-masing,” imbuhnya.
Ia mengatakan, budaya desa kami tidak dimiliki oleh desa lain, makanya mau tidak mau sebagai Pendamping Budaya harus berusaha meyakinkan masyarakat untuk selalu membangkitkan dan mengembangkan budaya yang ada.
“Saya sangat yakin nanti banyak pihak yang akan melirik dan tidak menutup kemungkinan menjadi desa wisata. Dengan memelihara situs secara otomatis kita memelihara alam juga dan kami sangat semangat bersemangat mewujudkan impian ini untuk kesejahteraan masyarakat, tanpa merusak alam,” tambah Iwan Pendamping Desa Budaya.
Sementara itu, Budayawan Bogor Ahmad Efendi Kartawijaya menyampaikan, saya sebagai orang tua mengapresiasi kepada generasi-generasi muda Padepokan Pancasona sebagai penerus yang begituh antusias dan cerdas. Itu adalah amanah dari leluhur kita, namanya amanah lambat laun (cepat atau lambat) harus di laksanakan dan kalau tidak di laksanakan suatu saat ada akibat.
“Contohnya seperti Aceh itu ada sebutan serambi Mekah karena begitu sucinya, tapi mereka terlena dengan kekayaan tanah yang subur makmur hingga terpaut dengan politik asing di tanami lah Ganja. Alloh sudah menfirmankan, siapa yang mensyukuri maka tunggu kenikmatan yang berlipat ganda dan yang tidak mensyukuri maka tunggu azabnya. Apa yang terjadi di daerah tersebut yaitu Tsunami, menyapu semuanya dan saya sedih,” tuturnya.
Ahmad Efendi menegaskan, makanya disini ada yang menggas oleh pemerhati budaya di Desa Purwarahayu, saya sangat bangga dan apresiasi. Oleh kita teralami, tapi oleh anak cucu kita dan selanjutnya jangan sampai mengalami seperti di daerah tersebut (Aceh).
Melalui bantuan para awak media untuk menginformasikan dan memberkan pengertian kepada masyarakat, para para pejabat atau pun para inohong-inohong, saya yang dari umur 2 tahun sampai lulus SD tinggal disini yakin akan turun tangan bersama-sama.
Saya tahu persis begitu agamis, kompak, perhatian dan kalau ada yang melihat suatu kegiatan masyarakat disini selalu antusias. Jadi ini perlu tim-tim generasi atau pun teamwork dan saya ucapkan selamat berjuang kepada mereka.
“Kalau tidak sama kita, mau sama siapa lagi. Kita harus sayang sama anak cucu agar tanah kita tetap tertib, aman, subur, makmur, loh jinawi,” ujarnya.
lanjut Aek Wijaya — sapaan Ahmad Efendi Kartawijaya saat menjabat sebagai anggota budayawan di Bogor, saya pensiunan militer berpangkat Kapten cuman dipekerjakan ke pendidikan dan pensiun pada tahun 2011.
“Padasaat pulang kampung, saya bangga karena yang tadinya sepi menjadi ramai. Dulu karena sangat sepi ramainya itu hanya dengan suara tongeret-tongeret, sehingga tidak berani lewat meskipun baru pukul 17.00 Wib (5 sore),” pungkasnya.





