PEWARTA : YUSRIZAL
Inovatif89.com — Dalam upaya memutus mata rantai Virus Corona atau COVID-19, Bidan Desa Tanjonagara berperan aktif yang selalu standby di posko Satuan tugas (Satgas) Gugus Covid-19 Desa Tenjonagara, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.
Masyarakat itu tidak semuanya paham mengenai covid-19, untuk itu saya selaku Bidan desa selalu standby untuk memberikan arahan atau memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang sosial distancing.
“Supaya masyarakat itu bisa paham dan tidak mengambil tindakan gegabah, harus diam di rumah atau isolasi diri selama 14 hari. ungkap Bidan Desa Tanjonagara Yuni Wahyuni ditemui di Posko Satgas Gugus Covid-19, Selasa (14/04/2020).
Menurut Yuni, kebanyakan masyarakat di suruh isolasi malah berkeliaran, sehingga saya kasih penjelasan agar mereka bisa paham maksud dengan isolasi diri itu seperti apa. Soalnya kalau tidak di kasih penjelasan masyarakat itu beranggapan bahwa mereka itu sehat.
“Padahal belum tentu, ketika dia di rumah ketemu sama orang yang lansia, kebetulan yang lansia itu dalam kondisi badannya kurang baik, mungkin dia yang akan terpapar. Tapi si orang yang pembawa Virus nya itu tidak akan apa-apa,” ujarnya.
Yuni menjelaskan, bahwa yang lansianya itu daya tahan tubuhnya kurang bagus, jadi setidaknya orang pemudik itu harus paham kondisi di rumah itu seperti apa.
“Makanya di anjurkan harus dengan isolasi mandiri, jaga jarak dengan keluarga, tidak boleh bertemu langsung dengan keluarga ataupun berjabat tangan dan diusahakan para pemudik lansung lapor ke posko yang ada di desa untuk di data serta diberi pemahaman apa maksud dari 14 hari diam di rumah tersebut, sehingga kelurganya juga paham dan tidak ada ketakutan lagi,” tuturnya.
Masyarakat beranggapan, sambung Yuni, bahwa kalu belum diperiksa belum boleh pulang kerumah. Padahal bukan tidak boleh pulang kerumah, tapi padasaat pulang ke rumah harus langsung mandi, bajunya bekas dipakainya langsung di rendam, istirahat yang cukup, makanan yang bagus dan dalam berkomunikasinya juga harus jaga jarak selama 14 hari.
“Prihal warga yang masih membandel, memang sudah di himbau karna pemaham mereka yang salah, kebanyakan mendengar yang hoak jadi mereka-mereka tidak tahu yang sebenarnya seperti apa. Mereka tahunya sehat-sehat saja tidak ada apa-apa, padahal kan yang di takutkan itu OTG orang tanpa gejala justru lebih bahaya karna kita tidak tahu. Masih mending yang tahu sudah ada gejala, jadi kita jelas antisipasinya seperti apa,” tegasnya.
Kebetulan total ODP kemarin sampai hari ini ada 7 orang dan PDP ada 1 orang, tapi Alhamdulillah hasilnya negative, karna sudah ravidtes dua kali dan sekarang sudah sehat, sudah pulang ke rumah dan di rumah sakit hanya 4 hari. tambahnya.
lanjut Yuni, berharap kedepan masyarakat bisa memahami apa yang di maksud sosial distancing itu harus bisa di pahami jangan sampai salah penafsiran dan hoaks, jangan sampai ketika ada yang positive, terus meninggal di tolak. Saya sendiri merasa miris.
“Ada teman-teman perawat yang meninggal terus di tolak jangan seperti itu, karna walaupun meninggal kan ada prosedurnya dan protokolnya dalam penanganan Covid-19 itu,” pungkasnya.





