Inovatif89.com – Kepala Desa (Kades) Tawangbanteng, untuk menyikapi air keruh dampak penambang pasir Galunggung Pemerintah Desa Tawangbanteng melakukan upaya untuk meredam akumulasi kekecewaan warga karena intensitas kekeruhan air semakin hari semakin di rasakan oleh masyarakat.
“Pada prinsipnya tidak di pertambangan tapi apabila air-nya tidak di antisipasi oleh para penambang, air kepada warga terus keruh maka persepsi kami, ini sebuah ke doliman,” ujar Nandang Abdul Ajiz kepada Wartawan ditemui usai pelaksanaan kegiatan Apel Siaga dan Do’a bersama memaksimalkan pencegahan Covid 19, penyebaran demam berdarah, kaki gajah serta menyikapi air keruh dampak penambangan pasir Galunggung, di halaman kantor Desa Tawangbateng, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Sabtu (11/07/2020) siang.
Dikatakan Nandang, oleh karena itu saya sebagai Pemerintah Desa Tawangbanteng hari ini mencoba menampung aspirasi agar masyarakat tidak melakukan upaya sendiri-sendiri yang sifatnya akhirnya anarkis yang di kemas dengan acara kegiatan apel siaga dan do’a bersama salah satunya adalah menyikapi pencegahan penyebaran Covid 19, penyebaran demam berdarah atau chikungunya, vilariasis atau kaki gajah dan menyikapi air keruh dampak dari pertambangan pasir galunggung.
“Kita mencoba terus melakukan berupaya untuk melakukan koordinasi dengan para ulama dan tokoh masyarakat, sebetulnya dibeberapa minggu ke belakang masyarakat sudah menyampaikan apresiasi kekecewaannya lewat facebook atau di grup-grup watshap yang ada di RT, RW dan Desa, mereka ingin melakukan aksi ke lokasi, bahkan ada yang ingin membakar beko dan juga menyetop aktivitas (penambangan pasir),” ungkapnya.
Tapi sama kita di berikan pemahaman, terang Nandang, bahwa kita memang perlu untuk pembangunan adalah matrial pasir galunggung. Namun kita juga berharap, bahwa para penambang dan Pemerintah pun harus lebih peka, oleh karena itu tahapan-tahapannya pasca do’a bersama ini seminggu atau dua minggu kedepan kita akan melakukan pertemuan, rapat-rapat dan berkoordinasi dengan Pemerintah untuk segera diagendakan duduk bersama dengan para penambang agar ada solusi yang terbaik untuk semua pihak.
“Tetapi kita berharap, para penambang ini menambang dengan aman dan nyaman sesuai dengan aturan, dampak limbah ke daerah kita tidak terlalu keruh,” tandasnya.
Saat disinggung dampak dari air keruh apa yang dirasakan terhadap kesehatan masyarakat? Menurut Nandang, untuk kesehatan masyarakat ternyata penyakit kulit di wilayah Desa Tawangbanteng kalo melihat grapik semakin tinggi juga meningkat dan yang paling pokok dimasa pandemi Covid 19 ini, adalah dampak ekonomi terhadap masyarakat.
“Minggu kemarin beberapa kolam warga masyarakat ikannya pada mati dan ini menjadi pemikiran kita bersama, janganlah para penambang menari diatas penderitaan orang lain serta kita juga berharap, bahwa semuanya kita dalam situasi dan kondisi nuansa yang kondusip semua pihak,” imbuhnya.
lanjut Nandang, atas nama Pemerintah Desa Tawangbanteng berharap para penambang mengikuti setiap aturan gak perlu harus ditutup karena pembangunan ini harus tetap berjalan. Karena pembangunan akan menyerap daya beli masyarakat, ketika ada bangunan-bangunan di daerah baik bangunan pemerintah sipil, swasta ataupun masyarakat ini akan menyerap tenaga kerja.
“Tapi saya serahkan kepada masyarakat kalau misalkan dari Pemerintah dan juga dari para penambang tidak ada kepekaan solusi tidak diberikan secara serius maka tidak kemungkinan mendesak untuk mendorong adanya moratorium atau penutupan,” pungkasnya.
Dalam kegiatan tersebut juga diisi dengan pembubuhan tandatangan kesepakatan dalam sepanduk untuk menyikapi air keruh dampak penambangan pasir galunggung. Dihairi oleh tokoh masyarakat, tokoh agama, RT, RW, PKK, Karang Taruna, Babinsa, Babinkhambmas, Kasi Trantib Kecamatan Sukaratu dan Korlap Masyarakat Galunggung Menggugat (MGM). [Fauzi]






