Hasil Swadaya, MI Cintamulya Bangun Ruang Kelas

Pembangunan ruang kelas MI Cintamulya. //Jurnalis - Yusrizal

TASIKMALAYA — Dalam rangka memenuhi kebutuhan kegiatan belajar mengajar, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cintamulya membangun ruang kelas.

Kepala Sekolah MI Cintamulya Ajid Abdul Majid, SH.I, mengatakan, memang sekolah kekurangan kelas dan begini keadaanya juga, kami pun merasa sedih sebetulnya. Karena ini juga (anggaran pembangunan) hasil dari swadaya antara orang tua murid, komite dan saya sebagai kepala sekolah.

Bacaan Lainnya

“Ada yang memberi semen, pasir, dan yang lainnya, kemudian itu di gabungkan,” ungkap Ajid kepada inovatif89.com saat ditemui di kantornya MI Cintamulya Kp. Cintamulya, Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa barat, Minggu (26/09/2021).

Ia menjelaskan, pada waktu rapat terkait biaya sudah saya perdiksi bahwa pembangunan ini akan menghabiskan anggaran mencapai sekitar Rp. 80 sampai 100 Jt. Tapi masyarakat bilang sudah tanggung dan jangan samapai bikin malu, ayo kita barsama-sama. Nekad saja.

“Mudah-mudahan kalau sudah di laksanakan pembangunan atau sudah berdiri, siapa tahu banyak yang memperhatikan,” paparnya.

Ajid mengaku sudah mengajukan bantuan kepada Pemerintah, melalui bantuan Sapras (Sarana Prasarana). Saya sudah mengajukan secara pribadi lewat online melalui Sim Sapras, dan dicek lagi bantuan tidak ada sama sekali.

“Jadi initinya ini tuntutan dari orang tua murid, agar anak-anaknya mendapatkan ruangan yang layak dan semestinya. Kalau saya pribadi sebagai pelaksana, ya iya-iya saja. Namun terkait biaya bukan main, saya pasrahkan saja sama orang tua murid dan komite,” ujarnya.

Hasil musyawarah dari semua pihak, terang Dia, Alhamdulillah mendapatakan hasil yang positif dan kami tidak menarget, silahkan semampu dan seikhlasnya saja.

“Terkait untuk upah pekerja, saya sendiri dan komite jua bingung harus di bayar pake apa? Tapi mudah-mudahan ada rizkinya. Alhamdulillah ada kegiatan pengajian rutin suka ada yang Infaq, sehingga bisa terbantu sedikit-sedikit,” tuturnya.

Jumlah murid meningkat menjadi 142 siswa, sedangkan ruangan untuk belajar mengajar hanya ada 5 ruang kelas dan itu pun menggunakan ruang Perpustakaan yang dibangun pada tahun 2012 dengan sumber anggaran bantuan dari Pusat.

“Makanya kami kekurangan ruang kelas dan itu pun sebenarnya hanya ada 3 (tiga) ruang kelas yang sesuai aturan atau ideal, sedangkan ruang kelas yang lainnya di sekat-sekat yang penting bisa menampung siswa untuk belajar,” tambahnya.

lanjut Ajid, sampai sekarang belum ada lagi perhatian dari Kemenag (Kementerian Agama). Intinya kami membangun ruang kelas ini dengan modal nekad dan swadaya.

“Berharap ada perhatian dari pihak yang terkait dan para donatur yang ingin membantu meringankan beban, kami siap menerima bantuan,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *