Ritual Adat Jelang Panen Padi di Tanah Copo

Pelayanan mewakili sesepuh Padepokan Pancasona Nordin memimpin do'a dalam ritual sebelum panen padi di tanah Copo. Inovatif89.com. //Jurnalis - Yusrizal

TASIKMALAYA — Mewakili sesepuh (tokoh) Padepokan Pancasona Nordin mengajak untuk kembali merawat atau melestarikan adat Sunda.

“Mari kita untuk kembali merawat adat Sunda, kalau bukan sama orang Sunda mau siapa lagi? Jadi kalau melihat sejarah dari para leluhur, orang Sunda kalau melaksanakan panen padi terlebih dahulu melaksanakan ritual adat dan hal tersebut akan dibangkitkan kembali di Tanah Copo ini,” ungkap Nordin kepada inovatif89.com usai memimpin do’a dalam acara ritual adat menjelang panen padi di tanah Copo Kampung Ciodeng, Desa Purwarahayu, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Minggu (17/10/202).

Bacaan Lainnya

Ia mengatakan, dalam hal ini bukan berarti “Taktak Ngaluhuran Sirah” tapi ingin melanjutkan dan menjelaskan adat budaya Sunda. Seandainya ada kekurangan ma’lum namanya juga manusia.

“Upacara adat tersebut sudah hampir musnah sekitar 70 tidak pernah dilaksanakan dan sekarang akan kembali melaksanakan ritual adat leluhur kita “Sunda Ngaguar”. Besok mau melaksanakan panen padi, sekarang melaksanakan ritualnya,” ucapnya.

Nordin sebagai Pelayanan menambahkan, Alhamdulillah sekarang kami bersama Padepokan Pancasona akan membangkitkan kembali ritual ada budaya sunda ini.

Sementara itu, Pendamping Desa Iwan Cahyadi mengungkapkan, secara kebetulan lagi ada tugas dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mendampingi potensi budaya yang ada di desa Purwarahayu dan saya sebagai Pendamping Desa harus berkordinasi dengan semua pemangku adat, salah satu diantaranya dengan Padepokan Pancasona ini.

“Terutama dalam bidang pertanian, seperti Tandur (menanam padi) dan ritual adat sebelum panen padi itu adalah berdo’a sesuai dengan cara leluhur orang Copo. Jadi di sini sebagai anak cucu ingin melestarikan dan mengembangkannya, minimal kami berterimakasih atas jasa-jasa para leluhur. Karena sawah dan saluran-saluran air ini kami tidak ikut membuat, hanya tahu dan menerima jadi saja,” imbuhnya.

Maka dari itu tata cara adat dan budayanya bagaimana pun caranya akan kami lestarikan dan dikembangkan kembali. Kami disini berkordinasi dengan Dinas Pertanian dan BPP yang ada di wilayah bahwa cara penanamannya juga memakai metode mina padi, sekaligus bisa budidaya ikan.

“Alhamdulillah kami sudah melakukan panen ke tiga kalinya, dan hasil panen padinya pun luar biasa meningkat serta ikannya juga melimpah. Apalagi di pematang-pematang sawahnya masih bisa di gunakan atau dimanfaatkan untuk tanaman sayuran jadi penghasilannya juga bisa tri in one, satu tempat bisa menghasilkan 3 macam,” jelasnya.

lanjut Iwan, semoga dengan kita mengembangkan adat dan kaya akan keaneka ragaman budaya, kita nanti bisa dijadikan Desa Wisata.

“Saya yakin semua berkembang dan kesejahteraan pasti bakal terasakan oleh masyarakat,” tandasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *