>

Jelang Nataru, Objek Wisata Galunggung Menuggu Kejelasan

Pintu masuk objek wisata Gunung Galunggung Desa Linggajati Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya Jabar. INOVATIF89/Yusrizal.

INOVATIF89.COM, TASIKMALAYA – Menjelang libur natal dan tahun baru (Nataru), objek wisata Cipanas Gunung Galunggung masih menunggu kejelasan.

Hal tersebut dikatakan pengelola objek wisata Cipanas Galunggung Dudung Suhaeri kepada inovatif89.com, saat ditemui di loket karcis Desa Linggajati Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya Jabar, Sabtu (11/12/2021).

Bacaan Lainnya

“Kami sebagai pengelola berharap sekali, bisa di buka dengan segala konsekuensinya dan siap melaksanakan Prokes Covid-19 yang ketat,” ungkapnya.

Menurutnya, sampai saat ini masih berjalan dan Alhamdulillah kami juga mendapat sertifikasi Clean, Health, Safety dan Environment (CHSE).

Dampak meletusnya Gunung Semeru, terang Dudung, wisatawan Gunung Galunggung per-harinya menurun sekitar 40%. Karenakan masyarakat menjadi hati-hati.

“Ditambah lagi dengan bermacam-macam berita isu hoaks, dan ada juga yang menyebutkan bahwa di Gunung Galunggung terdapat aktifitas pesugihan,” imbuhnya.

Dudung menyampaikan, Alhamdulillah sejauh ini Galunggung aman dan juga disini tidak ada aktivitas-aktivitas pesugihan apapun. Bahkan seandainya itu ada, kami akan melarangnya.

“Kita juga sudah berkomitmen dengan MUI setempat, adanya larangan melakukan kegiatan yang mengandung ritual-ritual yang sifatnya menyesatkan,” tegasnya.

Gunung Galunggung itu akan meletus memang susah untuk di pertanggung jawabkan, selama ini kami intens mendapat laporan setiap hari dari tim Vulkanologi yang berkaitan dengan aktifitas Galunggung.

“Disitu sudah terekam kegempaan dan juga PH air akan berubah jika ada aktifitas. Kemudian juga berkaitan dengan aktifitas vulkanik Gunung Galunggung masih terekam di level 1 normal, artinya ini aman untuk di kunjungi,” tambahnya.

lanjut Dudung, berpesan janganlah membuat hoaks karena Galunggung ini salah satu media usaha yang bukan hanya kami sebagai BUMN, tetapi banyak masyarakat yang terlibat.

“Disini terdapat 110 warung dan 150 ojek wisata dan mereka mempunyai keluarga, ketika nanti hoaks itu di gulirkan bukan hanya kami tapi juga masyarakat yang akan di rugikan,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *