>

Eduwisata JurlapQu Tanah Copo

Foto/dok : Inovatif89.com //Jurnalis - Yusrizal

TASIKMALAYA — Pemilik Eduwisata Dijuru Lapangan Aku (JurlapQu) Nur Iswandy Bin Yakop mengatakan, sebelum orang jauh melihat desa ini sendiri, kami mengambil peran untuk orang-orang lokal bermaksud untuk menceritakan dengan memberikan kesempatan kepada mereka yang sudah pada tua tentang kisah-kisah sejarah rakyat yang akan hilang ditelan jaman.

“Karena tidak ada satu usaha pun sebelum ini dilaksanakan untuk sejarah para leluhur di dokumentasikan secara dokumenter atau pun tulisan, jadi ini adalah bentuk usaha kami agar supaya sejarah tanah copo ini bisa kembangkan, di estarikan, dan yang paling penting masyarakat yang memegang kisah ini bisa bersatu padu meskipun berbeda paham,” ungkap Iswandy kepada inovatif89.com ditemui di Area JurlapQu Tanah Copo Desa Purwarahayu, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (30/10/2021).

Bacaan Lainnya

Ia menjelaskan, didalam area beraneka ragam untuk mengingatkan kembali pada jaman dahulu, dan ada musium benda pusaka yang di dalamnya ada Al-Qur’an dari Daun Lontar, hingga sampai sekarang masih terawat dengan baik. Selain itu ada makanan cemilan seperti opak bakar dengan cara membakarnya sendiri, menumbuk padi, membuat Gula aren, dan masih banyak lagi.

“Hari ini ada kegiatan Ngaguar Budaya Leluhur (NGABUBUR) di Tanah Copo oleh Padepokan Pancasona. Sambil mengenalkan saja, tadi juga ada pelatihan musik Angklung yang diperagakan. Mereka itu hanya butuh waktu 30 menit saja untuk belajar dan langsung bisa memainkan musik Angklung,” paparnya.

Melalui JurlapQu, terang Iswandy, kami juga merangkul orang-orang agar bisa belajar menguasai skil budaya, skil ekonomi, dan bisa menguasai pasar dunia. Saat ini kita sedang mengadakan promosi rumah terbalik yang menggambarkan cara hidup budaya Sunda, bagaimana cara orang-orang terdahulu memasak menggunakan Hawu secara balik, makan dengan duduk beralaskan Samak penyajiannya yang kreatif, dan permainan-permainan orang dahulu di dalam waktu senggang.

“Ini secara tidak langsung untuk menarik minat masyarakat belajar budaya mereka sendiri dengan cara menarik, kreatif dan inovatif. Munculnya inspirasi ini, karena saya sayang Indonesia, kita sayang bangsa Sunda nya. Apabila kita sudah mulai menyayangi satu negara “kata pepatah” Dimana Bumi di Pijak, Disitulah Langit di Junjung,” imbuhnya.

Menurutnya, saya pada saat ini berpijak di bumi Purwarahayu tanah Copo tatar Sunda dan Bangsa Indonesia, jadi harus berpegang kepada pepatah itu. Melihat kebutuhan-kebutuhan masyarakat disini untuk melestarikan dan memberikan motivasi dalam segala hal, sehingga terciptalah JurlapQu ini.

“Saya sering mengenalkan dan membawa Pemerintah Serawak berkunjung ke Jawa Barat, karena Indonesia terutama Jawa Barat ini merupakan satu rool mode digital ekonomi terbaik se-Asean dan mungkin sampai dunia. Sebab itu Pemerintah Malaysia melihat Indonesia sebagai satu tempat yang menjadi percontohan,” tutur Nur Iswandy warga negara Malaysia yang menikahi warga Desa Purwarahayu.

Istri orang Purwarahayu, jadi saya berkesempatan untuk memperkenalkan kerajaan masyarakat ke luar negeri, tentang betapa hebatnya pemikiran orang Indonesia dan betapa strategisnya cara pentakdiran bernegara. tambahnya.

lanjut Iswandy, jadi itu yang membuat saya ada di sini. Kebetulan di Indonesia sudah 12 tahun dan bolak balik di tanah Copo ini dikarenakan ada hambatan Covid-19.

“Bolak balik ke kantor Indonesia sudah hampir satu tahun enam bulan, tentu belum bisa pulang ke Malaysia, dan Insyaallah kalau sudah di sepadankan lagi setelah mendapatkan vaksin yang kedua baru nanti bisa pulang,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *